Literasi Camp SMK PIM tahun 2025

BELAJAR DARI PARA MAESTRO, SEPULUH MURID SMK PIM DITEMPA MENJADI CERPENIS

 

MALANG – Sutejo Spectrum Center (SSC) kembali menggelar Super Camp Menulis Cerpen, sebuah program pelatihan intensif tiga hari yang kerap disebut sebagai “kawah candradimuka” bagi generasi Z yang ingin mempertajam kreativitas sastra.

Kegiatan yang berlangsung pada 10–12 Desember 2025 ini menerapkan teknik immersion: peserta tinggal, berbaur, dan berlatih langsung bersama cerpenis dari pagi, siang, hingga malam.

Super Camp kali ini diikuti oleh sepuluh murid terpilih dari SMK Putra Indonesia Malang (SMK PIM). Kesepuluh peserta tersebut merupakan murid yang dinilai memiliki minat dan bakat kuat di bidang sastra, didampingi dua guru pembimbing selama menjalani pelatihan.

Para peserta mendapat bimbingan langsung dari nama-nama besar dunia kepenulisan Indonesia, seperti Arafat Nur, Sapta Arif NW, dan Sutejo.

Turut hadir pula dua cerpenis muda SSC, Nur Imaniyah Purnama dan Mu’alif Hidayatullah—duo penulis berbakat yang pada 2025 sukses meraih juara 1 dan 2 Lomba Menulis Feature Jurnalistik Grebeg Suro Ponorogo.

Program intensif ini menargetkan masing-masing peserta mampu menghasilkan dua cerpen berkualitas: satu karya pra-super camp dan satu karya pasca-super camp.

Selama tiga hari penuh, peserta diajak menggali kreativitas, melatih keliaran imajinasi, menemukan ide segar, hingga mengolahnya menjadi cerita yang matang.

BACA JUGA : SUPER CAMP DI SSC : KAWAH CANDRADIMUKA KREATIVITAS SASTRA GENERASI Z

Antusiasme terlihat dari para peserta, salah satunya Arsyad Abrysam, murid kelas XI TKJ B. Ia mengaku menemukan pengalaman baru dalam proses menulis cerpen.

“Saya dapat pengalaman baru yang berbeda. Tidak menduga, ternyata menulis cerpen itu mengasyikkan,” ujarnya.

Sapta Arif NW yang turut mendampingi sejak tahun sebelumnya mengaku bangga melihat semangat Gen Z terhadap sastra.

“Dari pengalaman tahun lalu, saya lihat masih banyak generasi muda yang punya kepedulian tinggi terhadap cerpen. Semoga peserta kali ini lebih liar, kuat, dan menantang karya yang dilahirkan,” ungkapnya memberi semangat.

Sementara itu, Sutejo, Kepala Suku SSC, menekankan bahwa menulis fiksi bukan sekadar merangkai cerita, tetapi juga melatih imajinasi, mengelola emosi negatif, serta menjadi simulator pikiran.

“Menulis sastra membutuhkan keliaran imajinasi, logika pengembangan cerita, pengalaman, dan etos latihan yang istiqomah,” pesannya.

Dari sisi sekolah, Diana Muhayanti selaku guru pendamping SMK PIM berharap para murid mampu menuntaskan target penerbitan buku antologi cerpen.

“Saya senang, bahagia, dan bangga bisa mengantarkan anak-anak penggila sastra ini untuk camp dan belajar langsung pada ahlinya,” pungkasnya.

Melalui Super Camp ini, SSC dan SMK PIM berharap lahir generasi penulis muda yang tidak hanya piawai berkarya, tetapi juga mampu memanfaatkan sastra sebagai ruang penguatan karakter dan kreativitas di tengah derasnya arus digital.

BACA JUGA : TINGGALKAN GADGET, MURID SMK PIM TENGGELAM DALAM DUNIA CERPEN

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *