TINGGALKAN GADGET, MURID SMK PIM TENGGELAM DALAM DUNIA CERPEN
MALANG – Kekhawatiran terhadap fenomena digital dementia, penurunan daya ingat akibat penggunaan gawai berlebihan, kian terasa di kalangan generasi Z. Sebagai generasi yang lahir antara 1997–2012 dan tumbuh sebagai digital natives, Gen Z akrab dengan teknologi, media sosial, serta arus informasi instan.
Namun, kemudahan ini kerap membuat mereka terjebak dalam penggunaan gadget tanpa kendali, terutama hiburan cepat seperti video pendek, dan music.
Berangkat dari kegelisahan itu, SMK Putra Indonesia Malang (SMK PIM) mengirimkan sepuluh murid terpilih untuk mengikuti Super Camp Menulis Cerpen, sebuah program tiga hari yang dirancang untuk membantu Gen Z kembali mengasah daya imajinasi dan kemampuan fokus melalui penulisan sastra. Kegiatan ini berlangsung mulai Rabu (10/12) hingga tiga hari ke depan.
Program yang digagas Sutejo Spectrum Center (SSC) tersebut mengusung metode immersion, yakni peserta berlatih menulis dengan “berbaur” langsung bersama para cerpenis. Mulai dari menggali ide, mengerami gagasan, menyusun alur, menulis draf, hingga melakukan penyuntingan karya secara intensif.
Peserta Super Camp tahun ini mendapat pendampingan langsung dari sejumlah sastrawan dan penulis berpengalaman, di antaranya Arafat Nur, Sapta Arif NW, serta dua cerpenis muda berbakat SSC: Nur Imaniyah Purnama dan Mu’alif Hidayatullah.
Keduanya merupakan peraih juara 1 dan 2 Lomba Menulis Feature Jurnalistik dalam gelaran Grebeg Suro Ponorogo 2025.
BACA JUGA : ATASI DIGITAL DEMENTIA GEN Z DENGAN SUPER CAMP SASTRA
Sapta Arif NW mengaku bangga melihat antusiasme generasi muda yang masih peduli terhadap sastra. “Dari pengalaman tahun lalu, saya makin yakin bahwa masih banyak Gen Z yang punya perhatian besar pada cerpen. Ini sangat menggembirakan,” ujarnya.
Sementara itu, Sutejo, Kepala Suku SSC, menegaskan bahwa sastra, khususnya fiksi, memiliki peran penting dalam melatih imajinasi, mengolah emosi, hingga menjadi simulator pikiran.
Menurutnya, proses menulis dapat membantu mengalihkan kebiasaan berlebih pada gawai. “Jika dilakukan secara berkelanjutan, praktik literasi seperti ini bisa menjadi salah satu cara mencegah digital dementia,” jelasnya.
Dua guru pendamping dari SMK PIM turut hadir, salah satunya Diana Muhayanti. Ia berharap program ini mampu melahirkan karya nyata berupa penerbitan antologi cerpen.
“Mudah-mudahan seperti tahun lalu, anak-anak bisa menyelesaikan semuanya dengan serius dan optimal sesuai target,” pungkasnya.
Melalui kegiatan ini, SMK PIM dan SSC berharap Gen Z dapat menemukan kembali ruang kreatif yang menyehatkan pikiran, sekaligus alternatif positif di tengah derasnya arus digital.
BACA JUGA : SMK PIM HADIRKAN ATLET NASIONAL, PRAPIMA BELAJAR AERODINAMIKA LEWAT PESAWAT KARET
